10 September 2009

Puasa dan Permohonan Maaf

SUDAH menjadi tradisi, setiap kali masuk bulan puasa, telepon genggam saya penuh dibanjiri SMS berbunyi: selamat berpuasa dan mohon maaf lahir batin. SMS serupa akan muncul lagi dalam jumlah lebih banyak menjelang Lebaran nanti.
Bagaimana memaknai SMS tersebut? Para ahli psikologi agama menyebutkan bahwa kalimat permintaan maaf, besar maknanya. Paling tidak, sebagai langkah awal bagi seseorang menyatakan penyesalan. Itulah tindakan paling sederhana menunjukkan sikap penyesalan seseorang.
Namun akan lebih berarti kalau permohonan maaf disampaikan bukan sekadar basa-basi, melainkan sungguh-sungguh merupakan refleksi batin, sekaligus sebagai komitmen memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan. Alquran mengajarkan, sedikitnya ada tiga hal harus dilakukan terhadap mereka yang berbuat salah, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik (al-Maidah 5:134).
Bahkan, sekalipun mereka bersumpah tidak akan berbuat baik kepada kita, tetap dianjurkan memberi maaf dan melupakan kesalahannya (al-Nur: 22). Hakikatnya, puasa membangun dan memperkuat sifat kemanusiaan manusia setinggi-tingginya sehingga pada akhirnya manusia penuh diliputi cinta kasih dan kemurahan hati, disertai kemampuan menahan marah serta keinginan tulus meminta maaf dan memaafkan sesama.
Sikap-sikap terpuji inilah sesungguhnya wujud nyata dari fitrah manusia (al-Rum30:30). Kesadaran akan fitrah manusia dan kenyataan bahwa dalam realitas tidak ada manusia luput dari dosa, dan kesalahan membawa pada kesadaran baru akan perlunya meminta maaf kepada sesama, terutama orangtua dan kerabat dekat, dari segala dosa dan kesalahan, baik tidak disengaja maupun jika disengaja.
Tidak hanya meminta maaf, tetapi juga memberi maaf kepada sesama tidak kalah pentingnya. Sebesar apa pun kesalahan orang lain, tidak perlu dihitung. Biarlah Tuhan yang mengetahui. Kewajiban kita sebagai sesama manusia hanyalah memberi maaf dan berusaha menunjukkan sikap yang jauh lebih baik.
Dalam interaksi sesama, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial, sulit dihindarkan adanya saling benturan kepentingan, salah paham, dan salah persepsi. Walau begitu, kenyataan ini tidaklah membuat manusia berhati-hati agar tidak melukai perasaan sesama. Bahkan, bukanlah perkara mudah melupakan kesalahan orang lain.
Orang umumnya lebih suka membayar ganti rugi atau membayar sanksi daripada meminta maaf. Mengapa? meminta maaf sering dianggap identik dengan kehilangan harga diri atau kehilangan muka. Untuk membangun sikap mudah memaafkan, perlu direnungkan sifat-sifat Tuhan yang baik (al-asma`ul husna).
Di antara 99 sifat tersebut, empat berkaitan dengan sifat pemaaf, yakni sifat-sifat al-Ghaffar, al- Ghafur, al-Thawwab, dan al- Afwu. Sebagai al-Ghaffar, Allah SWT senantiasa berjanji menutupi kesalahan dan dosa orang-orang yang bertaubat, bahkan kesalahan mereka akan ditukar dengan kebajikan (al-Furqan, 25:70).
Allah SWT menyambut permohonan tulus para hamba, termasuk hamba yang berdosa sekalipun, dengan syarat tidak mempersekutukan Allah SWT (al-Furqan 25:70). Allah SWT memerintahkan manusia agar meneladani-Nya dalam memberi maaf dan ampunan (al-Jatsiyah45: 15), bahkan ditegaskan: "siapa bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain maka hal demikian termasuk sifat utama" (al-Syura`42:43).
Ampunan Tuhan sungguh sangat luas, tak bertepi dan tak ternilai oleh apa pun. Hanya satu syarat, jangan mempersekutukan Allah dengan suatu apa pun. Renungkan makna hadis qudsi berikut: "Hamba-Ku, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh isi bumi, Aku pun pasti menyambut kalian dengan ampunan sepenuh isi bumi, asalkan kalian tidak mempersekutukan Aku" (HR Tarmizi dari Anas ibnu Malik).
Lalu, mengapa enggan memohon maaf? Pesan moral yang ingin dinyatakan Alquran adalah: berilah maaf sebelum yang bersalah meminta maaf. Dengan demikian, maaf yang diberikan itu tidak terkesan terpaksa. Slogan "tiada maaf bagimu" jangan pernah ada dalam kamus kehidupan kita.
Sikap saling minta maaf dan memberi maaf inilah sesungguhnya fondasi utama bagi pemulihan dan penguatan hubungan silaturahim sesama manusia. Puasa seharusnya menjadi media yang memperkukuh fondasi tersebut. Wallahu a'lam bi as-shawab.(*)

SITI MUSDAH MULIA
Profesor Riset Bidang Lektur Keagamaan dan
Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah Komentar, Saran dan Kritik Yang Membangun.