10 September 2009

PERESMIAN TPA-TPQ Masjid AL-MUHAJIRIN

Perumahan warga Pancur Biru Lestari II, RW. III, Kelurahan Duriangkang Kecamatan Sei Beduk menyambut Bulan Suci Ramadhan 1430 H, Mengadakan “Doa Arwah dan Peresmian Gedung Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA)” bernama Al Muhajirin, yang menempatkan agama sebagai landasan. Untuk itulah warga perum Pancur Biru Lestari II, berbenah diri dengan membangun sarana dan prasarana penunjang selain yang sudah berdiri Madrasah Dinniyah Awwaliyah Al Muhajirin yang berlokasi bersebelahan dengan Masjid Al Muhajirin. Terkait dengan itu, TPA Al Muhajirin akan dilaksanakan dengan peresmian oleh Wakil Walikota Batam Bapak Ir H Ria Saptarika.(15/8).

Ketua RW III Bapak Rajikin.ST, menjelaskan bahwa pembangunan atas kerjasama secara bergotong royong bersama-sama warga Perum Pancur Biru Lestari II. Pembangunan TPA selama empat (4) tahun yang menelan biaya sekitar Rp 85 juta, merupakan swadaya serta gotong royong dari masyarakat setempat, serta bantuan dari Wakil Walikota Batam. Masih banyak lagi dana yang kami butuhkan dalam pembangunan ini, terutama fasilitas untuk proses belajar mengajar, tapi kami selaku pengelola bersama masyarakat, tokoh agama, dan Lurah setempat akan terus mengupayakan kekurangan itu, demi mewujudkan serta meningkatkan mutu pendidikan Al-Qur’an di tempat kami ini, ungkapnya.

Dalam sambutannya, Ir H Ria Saptarika mengungkapkan rasa syukurnya atas dibangunnya sekolah TPA Al Muhajirin di Perum Biru Lestari II ini, yang sebahagian besar pembangunannya merupakan swadaya masyarakat setempat sebagai wujud nyata partisipasi dan gotong royong kerjasama yang baik demi memajukan siar agama dan pembangunan daerah, sekaligus sebagai tanggungjawab masyarakat, orang tua dan pemerintah untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang mempunyai mental agama yang kokoh.

Hal ini merupakan landasan pembentukan jiwa mereka dimasa yang akan datang, untuk mengisi pembangunan di perum Pancur Biru Lestari II ini pada khususnya serta bangsa pada umumnya, apalagi mengingatkan kita semua sebentar lagi akan memasuki Bulan Ramadhan, manfaatkan bulan suci untuk memperbaiki diri tutur Ria.

Berkat gotong royong dan merupakan budaya yang patut dilestarikan, karena salah satu dari program pemerintah mengharapkan masyarakat saling ber gotong royong. Apabila gotong royong sudah terlaksana dengan tepat maka akan dapat manfaatnya secara maksimal dengan sebaik-baiknya, tentu dengan harapan besar akan suatu keberhasilan dimasa akan datang terus berlanjut budaya gotong royong ini.

Menandai diresmikannya TPA tersebut, Wakil Walikota Batam Ir H Ria Saptarika, melakukan pemukulan gong dan pengguntingan pita serta melakukan tanda tangan untuk Sertifikat baca tulis Al Qur’an di TPA Al Muhajirin. Ria melihat ruangan TPA Al Muhajirin Perum Pancur Biru Lestari II dengan harapan berdirinya TPA tersebut, dapat lebih membangkitkan semangat belajar para santri dengan tidak terlepas dari peran serta orang tua, masyarakat serta pemerintah untuk bersama-sama menyamakan niat untuk mempersiapkan serta membangun generasi muda yang mempunyai landasan agama yang kokoh dalam mengisi pembangunan di daerah ini.

Puasa dan Permohonan Maaf

SUDAH menjadi tradisi, setiap kali masuk bulan puasa, telepon genggam saya penuh dibanjiri SMS berbunyi: selamat berpuasa dan mohon maaf lahir batin. SMS serupa akan muncul lagi dalam jumlah lebih banyak menjelang Lebaran nanti.
Bagaimana memaknai SMS tersebut? Para ahli psikologi agama menyebutkan bahwa kalimat permintaan maaf, besar maknanya. Paling tidak, sebagai langkah awal bagi seseorang menyatakan penyesalan. Itulah tindakan paling sederhana menunjukkan sikap penyesalan seseorang.
Namun akan lebih berarti kalau permohonan maaf disampaikan bukan sekadar basa-basi, melainkan sungguh-sungguh merupakan refleksi batin, sekaligus sebagai komitmen memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan. Alquran mengajarkan, sedikitnya ada tiga hal harus dilakukan terhadap mereka yang berbuat salah, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik (al-Maidah 5:134).
Bahkan, sekalipun mereka bersumpah tidak akan berbuat baik kepada kita, tetap dianjurkan memberi maaf dan melupakan kesalahannya (al-Nur: 22). Hakikatnya, puasa membangun dan memperkuat sifat kemanusiaan manusia setinggi-tingginya sehingga pada akhirnya manusia penuh diliputi cinta kasih dan kemurahan hati, disertai kemampuan menahan marah serta keinginan tulus meminta maaf dan memaafkan sesama.
Sikap-sikap terpuji inilah sesungguhnya wujud nyata dari fitrah manusia (al-Rum30:30). Kesadaran akan fitrah manusia dan kenyataan bahwa dalam realitas tidak ada manusia luput dari dosa, dan kesalahan membawa pada kesadaran baru akan perlunya meminta maaf kepada sesama, terutama orangtua dan kerabat dekat, dari segala dosa dan kesalahan, baik tidak disengaja maupun jika disengaja.
Tidak hanya meminta maaf, tetapi juga memberi maaf kepada sesama tidak kalah pentingnya. Sebesar apa pun kesalahan orang lain, tidak perlu dihitung. Biarlah Tuhan yang mengetahui. Kewajiban kita sebagai sesama manusia hanyalah memberi maaf dan berusaha menunjukkan sikap yang jauh lebih baik.
Dalam interaksi sesama, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial, sulit dihindarkan adanya saling benturan kepentingan, salah paham, dan salah persepsi. Walau begitu, kenyataan ini tidaklah membuat manusia berhati-hati agar tidak melukai perasaan sesama. Bahkan, bukanlah perkara mudah melupakan kesalahan orang lain.
Orang umumnya lebih suka membayar ganti rugi atau membayar sanksi daripada meminta maaf. Mengapa? meminta maaf sering dianggap identik dengan kehilangan harga diri atau kehilangan muka. Untuk membangun sikap mudah memaafkan, perlu direnungkan sifat-sifat Tuhan yang baik (al-asma`ul husna).
Di antara 99 sifat tersebut, empat berkaitan dengan sifat pemaaf, yakni sifat-sifat al-Ghaffar, al- Ghafur, al-Thawwab, dan al- Afwu. Sebagai al-Ghaffar, Allah SWT senantiasa berjanji menutupi kesalahan dan dosa orang-orang yang bertaubat, bahkan kesalahan mereka akan ditukar dengan kebajikan (al-Furqan, 25:70).
Allah SWT menyambut permohonan tulus para hamba, termasuk hamba yang berdosa sekalipun, dengan syarat tidak mempersekutukan Allah SWT (al-Furqan 25:70). Allah SWT memerintahkan manusia agar meneladani-Nya dalam memberi maaf dan ampunan (al-Jatsiyah45: 15), bahkan ditegaskan: "siapa bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain maka hal demikian termasuk sifat utama" (al-Syura`42:43).
Ampunan Tuhan sungguh sangat luas, tak bertepi dan tak ternilai oleh apa pun. Hanya satu syarat, jangan mempersekutukan Allah dengan suatu apa pun. Renungkan makna hadis qudsi berikut: "Hamba-Ku, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh isi bumi, Aku pun pasti menyambut kalian dengan ampunan sepenuh isi bumi, asalkan kalian tidak mempersekutukan Aku" (HR Tarmizi dari Anas ibnu Malik).
Lalu, mengapa enggan memohon maaf? Pesan moral yang ingin dinyatakan Alquran adalah: berilah maaf sebelum yang bersalah meminta maaf. Dengan demikian, maaf yang diberikan itu tidak terkesan terpaksa. Slogan "tiada maaf bagimu" jangan pernah ada dalam kamus kehidupan kita.
Sikap saling minta maaf dan memberi maaf inilah sesungguhnya fondasi utama bagi pemulihan dan penguatan hubungan silaturahim sesama manusia. Puasa seharusnya menjadi media yang memperkukuh fondasi tersebut. Wallahu a'lam bi as-shawab.(*)

SITI MUSDAH MULIA
Profesor Riset Bidang Lektur Keagamaan dan
Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta